Obat Untuk HIV/AIDS Ditemukan, Pengidap HIV Bisa Hidup Lebih Lama Satu Dekade

Obat Untuk HIV/AIDS Ditemukan

Cultureindo.com – Dari dahulu, HIV merupakan sebuah momok yang sangat ditakuti. Virus yang sangat mematikan serta belum ditemukan obatnya ini, selalu membuat para pengidap HIV tersisihkan dari masyarakat karean takut tertular. Namun sepertinya, para pengidap HIV sekarang memiliki harapan baru. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti menyatakan, bahwa mereka telah menemukan sebuah obat untuk HIV/AIDS. Sebuah studi baru yang dilakukan mengklaim bahwa pengobatan terbaru HIV/AIDS yang mereka terapkan, mampu membuat seorang pengidap HIV/AID hidup satu dekade lebih lama.

 

Obat Untuk HIV/AIDS Ditemukan

Sebuah metode pengobatan yang bernama terapi antiretroviral (ART), telah dilakukan dan dijalani oleh seorang pemuda pengidap HIV. Pria yang bernama jimmy Isaac (28) yang mengidap HIV setelah tertular virus tersebut dari pacarnya 3 tahun lalu, mengikuti terapi tersebut dengan meminum tiga obat dalam sehari. Dan itu sebagai wujut dari semangat Isaac untuk tetap bisa hidup. bahkan Isaac mengaku, dia bisa melakukan kegiatan sebagaimana orang normal seperti biasa, dan dapat berbaur dengan lingkungan sekitar. Bahkan efek samping yang kerap kali ditakutkan oleh para pengidap HIV yang biasanya setelah meminum obat, sama sekali tidak dia alami.

 

“Saya telah mendengar banyak cerita buruk tentang obat-obatan itu di tahun 90-an tetapi, ketika saya melakukan penelitian, saya menyadari obat tersebut telah berubah,” ujarnya.

 

Seperti yang kami lansir dari CNNIndonesai, peneliti tersebut menjelaskan hasil studinya dalam sebuah makalah yang terbit pada hari Rabu (10/5) lalu. Peneliti tersebut menyatakan bahwa pengobatan tersebut jauh lebih bagus dari pada metode sebelumnya. Disebutkan, pasien umur 20 tahun-an yang memulai terapi intiretroviral tersebut pada tahun 2010, diprediksi akan mampu hidup 10 tahun lebih lama jika dibandingkan pasien yang melakukan terapi serupa pada tahun 1996 ketika terapi ini pertama kali ditemukan.

 

Hal tersebut dikarenakan adanya penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan efek terapi dengan meminimalisir efek samping yang biasanya terjadi serta efek racun yang lebih sedikit di dalamnya. Sehingga terapi HIV/AIDS terbaru ini lebih baik untuk kesehatan pasien. Peneliti Universitas Bristol di Inggris uga mengatakan, perbakan yang dlakukan menitik beratkan pada efek samping dan racun di dalam obat. Sehingga pengobatan dengan efek samping yang minim serta menghindari infeksi terhadap pasien pengidap HIV yang notabene resistan terhadap obat, merupakan keberhasilan dari terapi HIV terbaru ini.

Sebagaimana yang kita tahu, terapi Antiretroviral memang sudah ada sejak dulu dan bukan terapi jenis baru. Terapi tersebut sudah dilakukan untuk mengobati HIV sejak 20 tahun yang lalu. Biasanya, terapi antiretroviral menggunakan 3 jenis obat atau lebih untuk mencegah HIV/AIDS. Bahkan 96% tujuan dari terapi ini adalah untuk menurunkan tingkat penyebaran virus di dalam tubuh.

Namun pada terapi pengobatan HIV yang baru saat ini, para peneliti lebih mengutamakan pada penggunaan pil yang lebih sedikit serta mengupayakan pencegahan terjadinya efek samping dan infeksi.

 

“Penelitian kami menggambarkan sebuah kisah sukses tentang bagaimana meningkatkan pengobatan HIV yang ditambah dengan skrining, pencegahan dan pengobatan masalah kesehatan terkait dengan infeksi HIV dan dapat memperpanjang masa hidup seseorang,” ujar Ahli Statistik Medis Universitas Bristol, Adam Trickey.

 

Penelitian tersebut dilakukan untuk menghapus stigma masyarakat yang seringkali memandang para pengidap HIV dengan sebelah mata. Sehingga diharapkan agar para penderita HIV juga dapat terus bekerja serta juga bisa memiliki asuransi kesehatan sebagaimana orang normal. Namun meski begitu, pengobatan harus dilakukan sesegera mungkin, dan si pasien harus patuh dalam menjalani proses terapi.

 

Organisasi Kesehatan Dunia juga merekomendasikan agar terapi pengobatan HIV ini segera diberikan pada pengidap HID sesegera mungkin setelah didiagnosis HIV/AIDS. Mereka juga merekomendasikan, agar pengobatan digunakan dengan ambang batas berdasarkan jumlah CD4 seseorang.

Tag:
author

Penulis: 

Memiliki jiwa seni, menyukai dunia tulis menulis dan gambar. Tertarik dengan bidang jurnalistik. Lulusan studi islam pesantren Fadhlul Wahid, tahun ajaran 2008-2009. Menjadi santri selama 8 tahun, dan lulus menjadi orang biasa yang menjalani hidup dengan biasa pula.